AC Penyebab Infeksi Paru, Mitos Atau Fakta?

Home / News / AC Penyebab Infeksi Paru, Mitos Atau Fakta?

Ada kalanya saya harus berterima kasih pada pendingin udara, utamanya saat jeda kerja di siang hari di musim kemarau. Saya membatasi diri hanya sepersekian menit menikmati semilirnya pendingin udara, sebabnya akhir-akhir ini saya agak tersugesti dengan pernyataan bahwa AC bisa membuat infeksi paru. Bukannya saya syok, hanya sedikit terkejut. Jadi, saya mencoba untuk membuka bermacam referensi. Akhir dari pencarian tersebut, saya menemukan mitos dan fakta dari pernyataan tersebut.

Mitos vs. Fakta

Menjadi mitos karena pendingin udara sejatinya memiliki semua persyaratan untuk menjaga kualitas udara lebih baik. Terdapat beberapa komponen penting dalam satu unit pendingin udara yang bertugas menjernihkan sekaligus mengalirkan udara sehingga menjadi layak hirup.

Bahkan untuk jenis tertentu, unit AC umumnya sudah dilengkapi fitur yang berguna untuk menetralkan bau. Ini masih belum menghitung fitur lain semacam air purifier. Bahkan dr. Eva Selhub dalam laman Huffington Post menyebut, pendingin udara justru bagus untuk penderita asma dan alergi.

Sebabnya, debu sudah disaring dan menyisakan udara yang layak hirup. Pendingin udara juga mampu menurunkan tingkat kelembaban ruangan sehingga memungkinkan penghuni ruangan menghirup udara bersih. Dari sini, mudah saja menyebut bahwa pendingin udara bisa memicu infeksi paru adalah mitos.

Satu sisi yang lain, menjadi fakta jika pendingin udara tidak pernah dibersihkan. Semua pasti sudah tahu, apapun yang kurang bersih pasti dapat mendatangkan sesuatu yang kurang baik. AC bukan pengecualian. Filter udara yang tidak pernah dibersihkan atau diganti bila perlu, merupakan habitat tepat untuk jamur dan bakteri berkembang.


Lokasi bakteri dan jamur berkembang. Sumber: nature.com

Sistem ini dapat berubah fungsi menjadi rumah jamur karena dalam rangkaian filter tingkat kelembaban justru meningkat akibat kondensasi yang terjadi saat udara bersih berhembus keluar. Mikro organisme kemudian keluar seiring udara yang menyebar, lalu pada tahap selanjutnya menyebabkan berbagai masalah pernafasan, termasuk infeksi paru.

Sebagai bukti, International Journal of Epidemiology tahun 2004 melakukan studi, bahwa pekerja yang lebih banyak menghabiskan waktu di ruangan dengan pendingin udara lebih banyak memiliki berbagai gejala kesehatan dibanding pekerja lapangan.

Masih dalam makalah yang sama, tenaga kesehatan lebih banyak mendapat kunjungan terkait masalah pernafasan dan THT. Yang menjadi persoalan, efek buruk yang dihasilkan AC tidak sebatas di sini. Selain sistem pernafasan, pendingin udara dapat memicu sakit kepala, alergi, juga kondisi lain.

Meski demikian, riset belum secara jelas menemukan penyebab spesifik hubungan antara pendingin udara dan beberapa penyakit tersebut. Sebabnya, sudah terlalu banyak model pendingin udara yang ada di pasaran sehingga membuat observasi data menjadi lebih sulit dilakukan.

Tapi menurut penjelasan WebMD, virus dan pathogen lain justru dapat bertahan lebih baik saat kelembaban rendah. Sebabnya, kondisi ini membuat saluran hidung menjadi lebih kering sehingga lebih rentan terhadap sebaran bakteri yang dilakukan oleh pendingin udara.

Yang menjadi masalah, pendingin udara umumnya tidak dibekali fitur untuk menghitung kelembaban udara. Sehingga, menurut laporan New York Times, pendingin udara membuat dehidrasi membran selaput lendir yang selanjutnya membuat hidung menjadi tempat paling menarik untuk reproduksi segala jenis bakteri.

Oleh karenanya, sangat tidak dianjurkan menyalakan pendingin ruangan sedingin mungkin, terutama setelah beraktivitas di luar. Jika mengacu pada studi, dapat disimpulkan adalah fakta bahwa pendingin udara bisa menjadi penyebab infeksi paru.

Lebih Banyak Mudaratnya

Sangat mungkin mengatakan, bahwa flu terburuk justru sering mengambil waktu di musim kemarau. Sebabnya, di saat musim kemarau siapapun kebanyakan menghabiskan waktu di luar ruangan, entah untuk menikmati waktu, atau sekedar traveling bareng keluarga, kemudian menyalakan pendingin udara dengan maksud menghilangkan panas.

Tentu saja, aktivitas di luar ruangan menjadikan suhu tubuh meningkat, dan otomatis butuh semacam pendingin udara untuk menormalkan kembali suhu tubuh. Alat yang dipilih, sudah barang tentu AC. Sejatinya, alat inilah yang jadi penyebab utama tubuh merasakan sakit.

Infeksi pernafasan merupakan efek paling standar yang bisa diterima siapa saja, bersamaan dengan flu. Udara dingin hasil kondensasi bukan merupakan penyebabnya, melainkan virus. Meski demikian, riset dari Cardiff University mengungkap, terdapat kemungkinan bahwa kondisioner udara memiliki kontribusi infeksi pernafasan.

Untuk sebagian, mendapati flu di tempat kerja sudah seperti kebiasaan. Padahal berulang kali studi membandingkan individu yang bekerja di kantor dengan pendingin udara dan yang tidak. Hasilnya, pekerja yang terpapar udara dingin secara simultan memiliki rasio tinggi untuk absen kerja karena sakit.

Gejala yang nampak seperti iritasi selaput lendir, susah bernafas, iritasi kulit, kelelahan, dan sakit kepala. Sejumlah gejala tersebut sering direferensikan sebagai sindrom sick building. Lebih lanjut, permukaan sistem pendingin udara yang secara konstan lembab, seperti gulungan pendingin, merupakan lingkungan yang sangat mendukung pertumbuhan mikro organis.


Peningkatan penderita legionnaire. Sumber: esemag.com

Bakteri legionella pneumophila termasuk yang bertanggung-jawab pada kebanyakan kasus penyakit legionnaire, yang merupakan tingkat penyakit terparah pneumonia (inflamasi paru karena infeksi, biasa disebut sebagai infeksi paru). Di luar ruangan, bakteri legionella berhabitat di tanah dan air tapi tidak menyebabkan infeksi.

Di dalam ruangan, bakteri yang menyebabkan infeksi paru ini dapat berkembang di berbagai macam sistem saluran air, termasuk kondisioner udara. Infeksi paru dapat terjadi saat siapapun yang berada dalam ruangan menghirup tetesan mikroskopik air hasil pendingin udara, yang kemudian menyebar ke seluruh area melalui sistem ventilasi.

Environmental Protection Agency (EPA) mengingatkan bahwa polusi udara dalam ruangan efeknya lebih besar dibanding udara di luar ruangan yang terkontaminasi. Karena kebanyakan individu menghabiskan waktu dalam ruangan, peluang menderita masalah pernafasan dan penyakit kardiovaskular menjadi lebih besar.

Pendingin udara, menurut EPA, mampu menyebarkan polusi dalam ruangan. Udara dari luar sebenarnya dibutuhkan untuk mengurangi polusi udara dalam rumah. Tapi, pendingin udara tidak membawa udara masuk ke dalam rumah, sehingga tidak membantu mengurangi konsentrasi polusi udara dalam ruangan.

Persoalan pendingin udara yang memicu berbagai kondisi kesehatan sebenarnya tidak hanya terjadi pada sistem pendingin dalam ruangan, pendingin mobil nyatanya juga mempunyai efek yang lebih kurang sama semisal tidak pernah dirawat.

Untuk kondisi yang seperti demikian, memburuknya penyakit asma dan alergi merupakan dua isu utama terkait unit pendingin udara yang sudah terkontaminasi. Proses mendinginkan udara menghasilkan banyak kelembaban dan kondensasi uap air.

Satu cara untuk melindungi diri yaitu dengan membuat pertahanan diri berupa perawatan rutin dan servis berkala pada pendingin udara. Dengan memakai AC yang terawat baik, polusi udara dari luar yang masuk ke ruangan dapat dibersihkan lebih dulu sebelum benar-benar bisa dihirup. Jangan lupa juga untuk menggunakan AC dengan baik dan benar.

Akhir dari semua uraian di atas mengacu pada satu kesimpulan jelas. Adalah fakta bahwa AC bisa menyebabkan berbagai masalah pada sistem pernafasan, utamanya infeksi paru. Tentunya disertai dengan beberapa catatan, seperti yang sudah tersebut sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *